Rabu, 08 Januari 2014

Gambaran Sebagian Isi Al Qur'an

"+"

ISI-ISI DALAM AL QUR’AN
Al-Qur'an diturunkan ke dunia agar menjadi petunjuk bagi manusia yang bertaqwa (QS. Al-Baqarah; 2 : 2) sebagai petunjuk dan pedoman hidup, Al-Qur'an mengandung beberapa pokok ajaran. Ajaran itu mengenai aqidah, ibadah, muamalah, kisah-kisah dan lain-lain.[1]
Al-Qur'an sebagai kitab suci terakhir dan paling sempurna, memiliki posisi penting dalam sistem ajaran Islam, karena merupakan representasi firman Allah SWT sebagaimana diwahyukan kepada Nabi Saw. Al-Qur'an adalah sumber utama ajaran Islam serta memiliki autentisitas tak terbantahkan. Penerimaan wahyu oleh Nabi Saw terkait erat dengan kondisi aktual ketika ia berada di Mekkah dan Madinah. Meskipun demikian substansi pesan Al-Qur'an tetap relevan sepanjang zaman.
Pada dasarnya kandungan Al-Qur'an itu terbagi menjadi  bagian-bagian, yang pertama berisi konsep-konsep dan bagian kedua berisi kisah-kisah, sejarah, amsal.[2]  Susunan ayat-ayat dan surat-surat yang terkandung dalam Al-Qur'an juga tidak sebagaimana susunan yang terdapat dalam buku-buku ilmiah yang “terkesan” lebih sistematis dan kronologis,[3] dengan menggunakan suatu metode tertentu, yang kemudian dibagi ke dalam bab-bab dan pasal-pasal. Hal ini dipahami bahwa Al-Qur'an bukanlah merupakan buku ilmiah yang dikarang dan disusun oleh manusia, melainkan merupakan suatu kitab suci yang segala aspeknya telah ditentukan oleh Allah SWT.
Demikian pula dengan adanya kisah-kisah dalam Al-Qur'an,[4] tidak berarti bahwa Al-Qur'an sama dengan buku-buku sejarah yang diuraikan secara kronologis dan lengkap dengan analisanya, serta bukan sastra, meskipun didalamnya diungkap dengan menggunakan bahasa yang amat indah, akan tetapi menurut Syayid Kutub pengungkapan kisah-kisah dalam Al-Qur'an merupakan suatu metode untuk mewujudkan tujuan yang ingin dicapai, karena bagaimanapun juga Al-Qur'an adalah kitab dakwah agama dan kisah-kisah adalah satu metode untuk menyampaikan materinya.[5]  Jelasnya bahwa adanya kisah tersebut tidak lain merupakan petunjuk, nasehat dan ibrah bagi manusia. Agar menjadi pelajaran dalam meniti hidup dan kehidupannya (QS. Hud (11) : 120).
Sastra yang memuat suatu kisah dewasa ini telah menjadi disiplin seni yang khusus diantara seni-seni lainya dalam bahasa dan kesusasteraan. Tetapi “kisah-kisah nyata” Al-Qur'an telah membuktikan bahwa redaksi kearaban yang dimuatnya secara jelas menggambarkan kisah-kisah yang paling tinggi. Disamping itu sebagai suatu metode, kisah juga memiliki daya tarik tersendiri, punya daya yang kuat bagi jiwa serta dapat menggugah kesadaran manusia kepada iman dan perbuatan yang sesuai dengan tuntunan ajaran Islam.[6] Dan merupakan suatu keistimewaan kisah-kisah yang terdapat dalam Al-Qur'an, bahwa didalamnya tidak terdapat unsur khayalan atau sesuatu yang tidak pernah jadi (QS. Al-Isra (17) : 105).



[1] Mahmud Zahrah, Qashash Min Al-Qur'an, dar al Kitab Al a’raby, Mesir, cet. I 1956, h. 3
[2] Dalam bagian yang berisi konsep-konsep Al-Qur'an bermaksud membentuk pemahaman yang komperhensif mengenai nilai-nilai ajaran Islam, maka dalam bagian kedua yang berisi kisah-kisah historis dan amsal, Al-Qur'an ingin mengajak dilakukannya perenungan untuk memperoleh hikmah  melalui dari kisah-kisah tersebut manusia diajak merenungkan hakekat dan makna kehidupan, yang tentunya yang tersirat maupun tersurat dalam hikmah historis dan kisah-kisah terdahulu. Lihat Kuntowijoyo dalam bukunya Muhammad Chirzin, Glosari Al-Qur'an, Yogyakarta: Lasuardi, 2003, hl. xv-xxvi
[3] walaupun ayat-ayat yang terkandung dalam Al-Qur'an satu sama lain berhubungan sistematis dan logis. Akan tetapi mengenai kisah-kisah dalam Al-Qur'an terlihat tidak sistematis dibanding buku-buku sejarah. Dalam buku sejarah dipaparkan rentetan peristiwa yang secara kronologis saling terkait, namun dalam Al-Qur'an tidak didapatkan hal semacam itu. Lihat Abdul Muin Salim Fiqh Siyasah Konsepsi Kekuasaan Politik dalam Iman, PT. Raja Grafindo, Jakarta 1994, h. 27
[4] Pemaparan tentang kisah-kisah dalam Al-Qur'an tidak dimaksudkan sebagai uraian sejarah lengkap tentang kehidupan bangsa-bangsa atau pribadi-pribadi tertentu dan disusun dalam suatu surat tersendiri mengenai kisah-kisah tersebut Ahmad Syurbasy, Qishash at Tafsir, dar Al-Qur'an, 1962, h. 55
[5] Sayyid Quthub, At Tashwir al Fanny fi Al-Qur'an, Dar al maarif, Kairo, 1956, hl. 120
[6] Manna’ Khalil Al Qaththan, Mabahis fi ulum Al-Qur'an, Mata his fi ulum Al-Qur'an, Dinamika Utama, Jakarta, tt, h. 140

Tidak ada komentar:

Posting Komentar