ISI-ISI DALAM AL QUR’AN
Al-Qur'an
diturunkan ke dunia agar menjadi petunjuk bagi manusia yang bertaqwa (QS.
Al-Baqarah; 2 : 2) sebagai petunjuk dan pedoman hidup, Al-Qur'an mengandung
beberapa pokok ajaran. Ajaran itu mengenai aqidah, ibadah, muamalah,
kisah-kisah dan lain-lain.[1]
Al-Qur'an
sebagai kitab suci terakhir dan paling sempurna, memiliki posisi penting dalam
sistem ajaran Islam, karena merupakan representasi firman Allah SWT sebagaimana
diwahyukan kepada Nabi Saw. Al-Qur'an adalah sumber utama ajaran Islam serta
memiliki autentisitas tak terbantahkan. Penerimaan wahyu oleh Nabi Saw terkait
erat dengan kondisi aktual ketika ia berada di Mekkah dan Madinah. Meskipun
demikian substansi pesan Al-Qur'an tetap relevan sepanjang zaman.
Pada
dasarnya kandungan Al-Qur'an itu terbagi menjadi bagian-bagian, yang pertama berisi
konsep-konsep dan bagian kedua berisi kisah-kisah, sejarah, amsal.[2] Susunan ayat-ayat dan surat-surat yang
terkandung dalam Al-Qur'an juga tidak sebagaimana susunan yang terdapat dalam
buku-buku ilmiah yang “terkesan” lebih sistematis dan kronologis,[3]
dengan menggunakan suatu metode tertentu, yang kemudian dibagi ke dalam bab-bab
dan pasal-pasal. Hal ini dipahami bahwa Al-Qur'an bukanlah merupakan buku
ilmiah yang dikarang dan disusun oleh manusia, melainkan merupakan suatu kitab
suci yang segala aspeknya telah ditentukan oleh Allah SWT.
Demikian
pula dengan adanya kisah-kisah dalam Al-Qur'an,[4]
tidak berarti bahwa Al-Qur'an sama dengan buku-buku sejarah yang diuraikan
secara kronologis dan lengkap dengan analisanya, serta bukan sastra, meskipun
didalamnya diungkap dengan menggunakan bahasa yang amat indah, akan tetapi
menurut Syayid Kutub pengungkapan kisah-kisah dalam Al-Qur'an merupakan suatu
metode untuk mewujudkan tujuan yang ingin dicapai, karena bagaimanapun juga
Al-Qur'an adalah kitab dakwah agama dan kisah-kisah adalah satu metode untuk
menyampaikan materinya.[5] Jelasnya bahwa adanya kisah tersebut tidak
lain merupakan petunjuk, nasehat dan ibrah bagi manusia. Agar menjadi
pelajaran dalam meniti hidup dan kehidupannya (QS. Hud (11) : 120).
Sastra
yang memuat suatu kisah dewasa ini telah menjadi disiplin seni yang khusus
diantara seni-seni lainya dalam bahasa dan kesusasteraan. Tetapi “kisah-kisah
nyata” Al-Qur'an telah membuktikan bahwa redaksi kearaban yang dimuatnya secara
jelas menggambarkan kisah-kisah yang paling tinggi. Disamping itu sebagai suatu
metode, kisah juga memiliki daya tarik tersendiri, punya daya yang kuat bagi
jiwa serta dapat menggugah kesadaran manusia kepada iman dan perbuatan yang
sesuai dengan tuntunan ajaran Islam.[6]
Dan merupakan suatu keistimewaan kisah-kisah yang terdapat dalam Al-Qur'an,
bahwa didalamnya tidak terdapat unsur khayalan atau sesuatu yang tidak pernah
jadi (QS. Al-Isra (17) : 105).
[1] Mahmud Zahrah, Qashash Min
Al-Qur'an, dar al Kitab Al a’raby, Mesir, cet. I 1956, h. 3
[2] Dalam bagian yang berisi
konsep-konsep Al-Qur'an bermaksud membentuk pemahaman yang komperhensif
mengenai nilai-nilai ajaran Islam, maka dalam bagian kedua yang berisi
kisah-kisah historis dan amsal, Al-Qur'an ingin mengajak dilakukannya
perenungan untuk memperoleh hikmah
melalui dari kisah-kisah tersebut manusia diajak merenungkan hakekat dan
makna kehidupan, yang tentunya yang tersirat maupun tersurat dalam hikmah
historis dan kisah-kisah terdahulu. Lihat Kuntowijoyo dalam bukunya Muhammad
Chirzin, Glosari Al-Qur'an, Yogyakarta: Lasuardi, 2003, hl. xv-xxvi
[3] walaupun ayat-ayat yang terkandung
dalam Al-Qur'an satu sama lain berhubungan sistematis dan logis. Akan tetapi
mengenai kisah-kisah dalam Al-Qur'an terlihat tidak sistematis dibanding
buku-buku sejarah. Dalam buku sejarah dipaparkan rentetan peristiwa yang secara
kronologis saling terkait, namun dalam Al-Qur'an tidak didapatkan hal semacam
itu. Lihat Abdul Muin Salim Fiqh Siyasah Konsepsi Kekuasaan Politik dalam
Iman, PT. Raja Grafindo, Jakarta 1994, h. 27
[4] Pemaparan tentang kisah-kisah dalam
Al-Qur'an tidak dimaksudkan sebagai uraian sejarah lengkap tentang kehidupan
bangsa-bangsa atau pribadi-pribadi tertentu dan disusun dalam suatu surat tersendiri
mengenai kisah-kisah tersebut Ahmad Syurbasy, Qishash at Tafsir, dar
Al-Qur'an, 1962, h. 55
[5] Sayyid Quthub, At Tashwir al
Fanny fi Al-Qur'an, Dar al maarif, Kairo, 1956, hl. 120
[6] Manna’ Khalil Al Qaththan,
Mabahis fi ulum Al-Qur'an, Mata his fi ulum Al-Qur'an, Dinamika Utama,
Jakarta, tt, h. 140
Tidak ada komentar:
Posting Komentar