PERAN WANITA DALAM ISLAM
Kita
mengetahui, bila seorang wanita di Eropa kawin, ia akan putus hubungan dengan
keluarganya. Sampai-sampai namanya sendiri dan nama keluarganya lenyap, masuk
ke dalam nama suaminya. Ia juga kehilangan hak untuk membeli, menjual,
menghibahkan atau berwasiat.
Berbeda
dalam Islam, mesti sudah bersuami, namanya dan nama keluarganya tetap dipakai
dan tercatat terus. Contohnya istri Rasulullah SAW, ia tidak dipanggil Nyonya
Muhammad terhadap Aisyah binti Abubakar, ia tetap dipanggil Aisyah binti
Abubakar.
Apa
sebenarnya tugas utama kaum wanita? Mengapa Islam membuat batasan-batasan kepada
kaum wanita? Mengapa Islam mengharuskan pakaian tertentu bagi wanita? Apakah ada
keistimewaan dan fasilitas yang diberikan kepada laki-laki sehingga membuat
rugi kaum wanita?
Pertanyaan
tersebut bisa pelajari dari kisah Nabi Adam, Hawa, dan Iblis. Allah telah
mengingatkan Adam dan Hawa terhadap bahaya godaan Iblis. Allah berfirman dalam
Surat Thoha ayat 117, artinya “maka kami berkata: hai Adam, sesungguhnya
ini (iblis) adalah musuh bagimu dan istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai
ia mengeluarkan kamu berdua dari surga yang menjadikan kamu celaka”.
Peringatan
Allah tersebut, telah ditujukan kepada nabi Adam dan Hawa istrinya. Tetapi untuk
pesan, “yang menyebabkan kamu menjadi
celaka”, hanya ditujukan kepada Nabi Adam sendiri. Mengapa ancaman “menjadi celaka” hanya kepada Adam saja,
dan tidak kepada istrinya?.
Dalam
pandangan Islam, kaum laki-laki merupakan pemimpin. Sebagaimana dalam firman
Allah SWT Surat An Nisa’ ayat 34, “kaum laki-laki itu adalah pemimpin
bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka
(laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita)….”.
oleh karena itu, kaum laki-laki hendaknya menanggung akibat dan memikul segala
resiko yang terjadi. Adam sebagai laki-laki diciptakan untuk menghadapi
perjuangan dari segala kesulitan dan kepahitan hidup. Sedangkan wanita
ditugaskan membantu meringankan beban laki-laki, menentramkan dan menenangkan.
Disaat
kaum laki-laki mengalami kelelahan dan pergolakan batin yang hebat, dia datang
kepada wanita untuk mendapatkan ketenangan, karena wanita adalah sumber kasih sayang.
Ketika dahi suami diusap dengan tangannya yang halus dan tutur kata yang
lembut, tentunya hilanglah segala rasa lelah dan kesal. Hal ini sebagaimana telah
difirmankan oleh Allah dalam surat Ar Ruum ayat 21: “supaya kamu (laki-laki)
cenderung dan merasa tentram kepadanya (istri), dan dijadikanya diantaramu rasa
kasih dan sayang…”.
Makna
dari ayat tersebut: Pertama, tugas kaum
wanita yaitu membuat laki-laki tentram kepadanya, laki-laki bergerak di luar
rumah, jauh dari tempat istrinya. Kemudian datang dengan segala rasa lelah. Ia datang
untuk istirahat, melepas kelelahan, ingin mendapatkan ketenangan dan
ketentraman. Istrilah yang dapat menghilangkan kelelahan dan keletihan fisik
dan mental suami dan merubahnya menjadi segar, tenang dan tentram. Kedua, melahirkan anak-anak. Firman Allah
dalam Surat An Nahl ayat 72: “Allah menjadikan
bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari
isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang
baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari
nikmat Allah ?".
Apabila
wanita menghargai tugas utamanya, maka pada saat suaminya sibuk dengan
pekerjaan, ia sibuk pula menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan oleh suami. Ketika
suaminya pulang ke rumah, dilihatnya semua isi rumah rapih, teratur, tenang,
terpelihara dengan baik dan segala urusan rumah tangga beres. Timbullah rasa
hormat, saling cinta dan kasih sayang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar