Minggu, 12 Januari 2014

Posisi wanita di Islam

"+"

PERAN WANITA DALAM ISLAM



Kita mengetahui, bila seorang wanita di Eropa kawin, ia akan putus hubungan dengan keluarganya. Sampai-sampai namanya sendiri dan nama keluarganya lenyap, masuk ke dalam nama suaminya. Ia juga kehilangan hak untuk membeli, menjual, menghibahkan atau berwasiat.
Berbeda dalam Islam, mesti sudah bersuami, namanya dan nama keluarganya tetap dipakai dan tercatat terus. Contohnya istri Rasulullah SAW, ia tidak dipanggil Nyonya Muhammad terhadap Aisyah binti Abubakar, ia tetap dipanggil Aisyah binti Abubakar.
Apa sebenarnya tugas utama kaum wanita? Mengapa Islam membuat batasan-batasan kepada kaum wanita? Mengapa Islam mengharuskan pakaian tertentu bagi wanita? Apakah ada keistimewaan dan fasilitas yang diberikan kepada laki-laki sehingga membuat rugi kaum wanita?
Pertanyaan tersebut bisa pelajari dari kisah Nabi Adam, Hawa, dan Iblis. Allah telah mengingatkan Adam dan Hawa terhadap bahaya godaan Iblis. Allah berfirman dalam Surat Thoha ayat 117, artinya “maka kami berkata: hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga yang menjadikan kamu celaka”.
Peringatan Allah tersebut, telah ditujukan kepada nabi Adam dan Hawa istrinya. Tetapi untuk pesan, “yang menyebabkan kamu menjadi celaka”, hanya ditujukan kepada Nabi Adam sendiri. Mengapa ancaman “menjadi celaka” hanya kepada Adam saja, dan tidak kepada istrinya?.
Dalam pandangan Islam, kaum laki-laki merupakan pemimpin. Sebagaimana dalam firman Allah SWT Surat An Nisa’ ayat 34, “kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita)….”. oleh karena itu, kaum laki-laki hendaknya menanggung akibat dan memikul segala resiko yang terjadi. Adam sebagai laki-laki diciptakan untuk menghadapi perjuangan dari segala kesulitan dan kepahitan hidup. Sedangkan wanita ditugaskan membantu meringankan beban laki-laki, menentramkan dan menenangkan.
Disaat kaum laki-laki mengalami kelelahan dan pergolakan batin yang hebat, dia datang kepada wanita untuk mendapatkan ketenangan, karena wanita adalah sumber kasih sayang. Ketika dahi suami diusap dengan tangannya yang halus dan tutur kata yang lembut, tentunya hilanglah segala rasa lelah dan kesal. Hal ini sebagaimana telah difirmankan oleh Allah dalam surat Ar Ruum ayat 21: “supaya kamu (laki-laki) cenderung dan merasa tentram kepadanya (istri), dan dijadikanya diantaramu rasa kasih dan sayang…”.
Makna dari ayat tersebut: Pertama, tugas kaum wanita yaitu membuat laki-laki tentram kepadanya, laki-laki bergerak di luar rumah, jauh dari tempat istrinya. Kemudian datang dengan segala rasa lelah. Ia datang untuk istirahat, melepas kelelahan, ingin mendapatkan ketenangan dan ketentraman. Istrilah yang dapat menghilangkan kelelahan dan keletihan fisik dan mental suami dan merubahnya menjadi segar, tenang dan tentram. Kedua, melahirkan anak-anak. Firman Allah dalam Surat An Nahl ayat 72: Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?".
Apabila wanita menghargai tugas utamanya, maka pada saat suaminya sibuk dengan pekerjaan, ia sibuk pula menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan oleh suami. Ketika suaminya pulang ke rumah, dilihatnya semua isi rumah rapih, teratur, tenang, terpelihara dengan baik dan segala urusan rumah tangga beres. Timbullah rasa hormat, saling cinta dan kasih sayang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar